OM SRI SAIRAM

OM SRI SAIRAM........
Tampilkan postingan dengan label antar agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antar agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2011

Kesalahpahaman tentang buddha-avatara



Buddha (bukan Budha) sangat dihormati dalam masyarakat Hindu. Ini merupakan nama dari salah satu Avatara dari Bhagavan Sri Vishnu, sehingga Buddha dikatakan dipuja oleh umat Hindu, terutama dari golongan Vaishnava, sebagai Vishnu-avatara atau Inkarnasi Vishnu. Pendapat atau keyakinan ini memang ditentang oleh umat Buddha, terutama dari kalangan Theravada. Dalam agama Buddha, Sakyamuni atau Gautama, yang kita kenal sebagai Buddha historis adalah seorang manusia biasa yang mencapai pencerahan sempurna menjadi Buddha seperti Buddha-Buddha lain yang telah mendahuluinya pada jaman yang telah lampau. Buddha bukanlah penjelmaan siapa-siapa. Tetapi pertanyaannya adalah apakah Buddha Sakyamuni (atau Sakyasingha) adalah Buddha yang sama, yang dibicarakan oleh kedua kelompok, umat Buddha dan Hindu Vaishnava?

Sepengetahuan kita, Vaishnavisme banyak tidak sependapat dengan ajaran Buddhisme sebagaimana dibawakan oleh Sakyasingha, lalu apa logikanya mereka bisa memuja pendiri agama lain sebagai penjelmaan dari Pujaan Tertinggi dalam keyakinan mereka? Belum lagi tidak ada satu Vaishnava pun secara tradisi yang bersedia melakukan pemujaan di tempat-tempat suci Buddhis. Perkecualian hanya di Vajrasana atau Maha-bodhi Vihara di Gaya (Bihar)! Sekalipun sering dikatakan bahwa golongan Hindu Vaishnavalah yang mengangkat Buddha masuk ke dalam pantheon para deva Hindu demi membangkitkan kembali pengaruh agama Veda yang mengalami kemunduran selama berabad-abad oleh perkembangan pesat agama Buddha, tetapi sesungguhnya ini tidak benar. Pada praktiknya, tidak ada Vaishnava yang bersembahyang di Vihara Buddha, kecuali pada tempat yang kita sebut sebelumnya. Kita harus memperhatikan benar kenyataan ini.

Tempat Pemujaan Buddhadeva bagi Vaishnava (Hindu)


Bila ada pertanyaan, apakah Vaishnava memuja Buddha? Maka jawabannya YA, tetapi bukan dalam Vihara Buddhis, karena ini bukan tempat sembahyang bagi para pengikut Veda. Buddhis tidak menerima Veda sebagai kebenaran, karena itu tidak sepantasnya para Vaishnava turut memuja Buddha di Vihara, di samping konsep Buddha yang dipegang oleh kedua ajaran juga berbeda. Namun bukan larangan bagi Vaishnava maupun umat Hindu yang lain untuk pergi ke Vihara dan menghormati "Buddhanya umat Buddha". Bagaimanapun juga kita memuliakan Sakyasingha Buddha atau Gautama Buddha sebagai pribadi yang terhormat. Seorang guru agung bagi banyak orang yang juga turut kita ajak bersama-sama berbagi susah dan senang bersama di dunia ini.

Pura Agung Jagannath di Puri, Orissa, India

Lalu di manakah para Vaishnava memuja Buddhadeva? Tentunya di Jagannath Puri, Orissa. Karena kita memuja Jagannath sebagai Param-brahman, dan Buddhadeva adalah salah satu wujud-Nya. Selain itu umat Hindu juga memuja Buddhadeva di Mahabodhi Vihara, di Bihar. Buddhadeva yang dipuja oleh Vaishnava merupakan salah satu wujud manifestasi Jagannath yang adalah Adi-Buddha, sumber semua potensi pencerahan, bukan Buddha Sakyasingha, Buddha historis yang merupakan manusia dan guru besar yang telah mencapai pencerahan, pendiri agama Buddha yang masih ada di jaman modern ini. Vajrasana atau Mahabodhi Vihara dinyatakan sebagai tempat pemujaan Adi-Buddha, jadi tidak mengkhusus pada peringatan pencapaian pencerahan Buddha historis saja. Lalitavistara bab 21 menyatakan bahwa Sakyasingha (Siddhartha) duduk di bawah pohon Bodhi di Vajrasana demi mencapai pencerahan sebagaimana para Buddha sebelumnya (purvabuddhasanasthah). Jadi jelas bahwa Mahabodhi Vihara tidak hanya dimaksudkan sebagai monumen peringatan pencapaian pencerahan Sakyasingha saja, melainkan semua Buddha sebelumnya. Dengan kata lain Mahabodhi merupakan tempat memuja hakikat tertinggi Kebuddhaan itu sendiri yang disebut Adi-Buddha dalam Vajrayana dan Vishnu-avatara Buddha atau Jagannath dalam Vaishnavisme. Inilah sebabnya mengapa para Vaishnava hanya bersembahyang pada Buddha di Mahabodhi Vihara saja.

Mahabodhi Vihara, Bihar

Arca Buddha dalam Mahabodhi Vihara. Satu-satunya Arca Buddha di India yang dipuja oleh umat Hindu ortodoks

Gaya-ksetra, tempat perziarahan suci dalam Veda bahkan sebelum munculnya Gautama Buddha historis
Bagaimana dengan para Vaishnava dan umat Hindu Indonesia secara umum? Apakah harus ke India dulu untuk bisa memuja Buddha? Untuk ini kita harus "melihat" sejarah. Dari sumber-sumber Buddhisme di Cina, dikatakan bahwa raja Subhakarasingha dari Odra atau Orissa berjasa dalam membawa agama Buddha ke Cina. Subhakarasingha dikatakan merintis penyebaran agama Buddha ke Cina dengan membawa Mahavairochana-sutra dan sebuah kitab ikonografi memuat berbagai mandala yang bernama Sarvatathagatha-tattvasamgraha yang secara khusus menekankan pentingnya Mahavairochana. Mahavairochana di sini juga merepresentasikan kembali konsep Adi-Buddha-Jagannath yang sudah berkembang di Orissa sebelumnya. Mandala-mandala terkenal yang berkaitan dengan ajaran ini antara lain Mahakaruna-garbhodbhava-mandala dan Vajradhatu-mandala. Ajaran-ajaran ini memang mencapai popularitasnya pada awal abad ke-8 di Orissa. Jagannath yang dipuja di Orissa sebagai Adi-Buddha sekali lagi mendapat tempat-Nya di pusat Vajradhatu-mandala sebagai Mahavairochana. Para sejarawan di Orissa meyakini bahwa ajaran ini mencapai Cina setelah melalui Sumatra dan Jawa, di Indonesia. Ajaran tentang Mahavairochana ini masih dianut di Cina dan Jepang sampai sekarang.

Ajaran ini juga berkembang dengan kuat di Indonesia di masa kejayaan Srivijaya-Sumatra dan Mataram-Jawa, bisa dilihat dari isi kitab Sang Hyang Kamahayanikan Mantrayana, yang masih dilestarikan hingga saat ini oleh sebagian umat Buddha Indonesia. Bahkan lebih dari itu ternyata juga sampai pada jaman Majapahit yang melahirkan konsep Siva-Buddha sebagaimana ditemukan dalam kitab Sutasoma. Buddhisme Indonesia tampaknya merupakan turunan Mahayana-Vajrayana-Mantrayana. Para praktisi ajaran ini menyebut diri mereka mengikuti Dharma Kasugatan. Memang Buddha historis juga disebut dengan gelar Sugata, tetapi Amarasingha terutama menggunakan nama Sugata Buddha untuk menyebut Vishnu-avatara Buddha. Melihat pelaksanaan Dharma Kasugatan dan keyakinannya akan konsep Adi-Buddha yang theistik, maka tampaknya Buddhisme Indonesia ini bersifat Vajrayana. Theravada, yang lebih bersifat non-theistik, mazhab Buddhisme terbesar di Asia Tenggara dan Srilanka tampaknya tidak banyak berpengaruh pada Buddhisme Indonesia di masa lampau, yang sekarang sisa-sisanya masih ditemukan di beberapa tempat. Kompleks Candi Borobudur merupakan pengejawantahan fisik dari ajaran ini.

Candi Buddha terbesar di dunia ini merupakan Vajradhatu-mandala tiga dimensi yang luar biasa, dengan Mahavairochana di pusatnya, yang dilambangkan dengan stupa induk Borobudur. Sedangkan Mendut merupakan mandala Buddha Mahavairochana yang juga diuraikan dalam Kamahayanikan. Mahavairochana Buddha kembali mewakili konsep Adi-Buddha dan Jagannath yang juga diyakini dan dipuja oleh Vaishnava. Di antara kedua candi ini, yang posisinya membentuk garis lurus, terdapat Candi Pawon. Pawon merupakan tempat puja Homa atau Agnihotra, sebuah ritual api suci yang nyaris hanya dilaksanakan dalam Vajrayana saja, selain dalam agama Hindu tentunya. Homa juga masih dilaksanakan oleh para pengikut Shingon Buddhisme di Jepang, salah satu cabang Tantra Buddha yang juga memuliakan Mahavairochana. Di Jepang upacara ini disebut Goma. Poros Mendut-Pawon-Borobudur dengan jelas menggambarkan konsep dan ajaran agama Buddha mana yang diterapkan di sini.
Dengan demikian kompleks Borobudur merupakan satu lagi tempat suci Buddha yang juga boleh menjadi tempat persembahyangan Vaishnava, setelah Mahabodhi Vihara di Gaya (Bihar). Sehingga secara spiritual tidak mengherankan bila Borobudur-Buddhis dibangun serangkaian dengan kompleks Candi Prambanan-Hindu (Prambanan=Param-brahman=Para-vasudeva). Borobudur dibangun berdasarkan konsep bahwa dia merepresentasikan Kebuddhaan Tertinggi dalam Vajradhatu-mandala yang berpusat pada Mahavairochana. Mahavairochana adalah Adi-Buddha yang adalah Jagannath atau Vishnu sebagai Svayam-bhagavan-para-vasudeva atau Param-brahman. Sedangkan Prambanan menghadirkan Param-brahman dalam representasi Tri Natha, Tri Deva, atau Tri Murti. Keduanya menyatakan Kebenaran Mutlak Tertinggi yang sama! Sehingga bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya para Vaishnava, di candi-candi inilah mereka dapat memuja Buddhadeva.

Sebagai kesimpulan dapatlah kita nyatakan bahwa Sakyamuni, Sakyasingha, atau Gautama yang dikenal sebagai Buddha historis bukanlah Buddha yang dipuja oleh para Vaishnava sebagai Vishnu-avatara Buddha. Sakyasingha merupakan guru agung yang telah mengalami pencerahan tidak disembah oleh para Vaishnava, bahkan kenyataannya umat Buddha pun juga tidak menyembahnya. Umat Buddha hanya menghormatinya sebagai guru pembimbing, teladan yang tiada taranya bagi mereka. Buddha yang dimaksud oleh para Vaishnava berbeda dengan yang dimuliakan oleh umat Buddha sebagai pendiri agamanya. Perbedaan ini terutama sangat jelas sehubungan dengan pandangan kalangan Theravada dari Buddhisme. Selama ini golongan Vaishnava dianggap bertanggung jawab atas masuk atau diserapnya Buddha historis sebagai salah satu Avatara serta memperoleh kehormatan dalam pantheon deva-deva Hindu. Ini tidaklah benar! Pemujaan Vaishnava kepada Buddhadeva mendahului kemunculan Sakyamuni atau Buddha historis.

catatan: Kamahayanikan memang menyatakan bahwa Mahavairochana memancar dari wajah Sakyasingha. Namun sekali lagi, ini tampaknya tidak bersesuaian dengan keyakinan Buddhis populer yang memandang Gautama Buddha hanya sebagai pribadi agung yang telah mencapai pencerahan sempurna tanpa mengidentifikasikannya dengan makhluk illahi apapun. Akan tetapi, ketika kita berjumpa dengan konsep Trikaya Buddha dalam Mahayana-Vajrayana atau Dharma Kasugatan, maka kita akan menemukan hal yang hampir sama sekali berbeda dengan pandangan Buddhis tradisionalis (Theravadin). Konsep Trikaya Buddha lebih dekat dengan pemahaman Buddhadeva dalam Vaishnavisme. Dharmakaya Buddha adalah Jagannath atau Adi-buddha yang paralel dengan Para-vasudeva dalam Vaishnava-tantra. Sambhogakaya Buddha paralel dengan Vaibhava-avatara Buddha. Nirmanakaya Buddha adalah Sugata Buddha dalam Vaishnavisme (sedangkan dalam Mahayana-Vajrayana saat ini adalah Sakyamuni Buddha). Penelitian yang dilakukan oleh Bhakti Ananda Goswamy di berbagai negara Buddhis menunjukkan adanya kesejajaran teologi antara Vaishnavisme dengan berbagai pandangan denominasi-denominasi Mahayana-Vajrayana. Penelitian beliau tentang ajaran Sukhavati (Pure Land Buddhism/Tanah Suci) memperoleh kesimpulan yang mirip dengan observasi saya pada Vajrayana Kalinga dan hasil diskusi saya bersama Prof. Fakir Mohan Das Sahityacharya dari Uttkal University, Orissa. Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa Sakyamuni atau Gautama Buddha yang dikenal dalam komunitas Theravadin adalah 100% bukan Avatara Vishnu, sekalipun kesimpulan yang kurang tegas akan muncul bila kita membicarakan Buddha dalam pandangan Mahayana-Vajrayana (apakah Buddha mereka sama dengan Buddha yang dimaksud oleh pengikut Veda).

Saktya-avesha Buddha


Ada pula beberapa orang Hindu yang mengatakan bahwa Buddha adalah seorang Saktya-avesha Avatara. Saktya-avesha berarti seorang jiva-tattva atau makhluk hidup biasa yang diberikan kuasa khusus dan kekuatan khusus dari aspek tertentu Tuhan. Sebagai contoh adalah para Avatara seperti Narada, Mahidasa, dan Empat Kumara. Kekuatan Tuhan bekerja melalui mereka, sekalipun mereka sendiri adalah makhluk hidup biasa. Seperti dibahas pada posting-posting sebelumnya, dalam tradisi Vaishnava-vedanta kita memahami adanya tiga tattva utama, atau adanya tiga kenyataan yaitu ishvara, cit, dan acit. Cit dan acit tergantung pada ishvara, sedangkan ishvara atau Tuhan Tertinggi adalah merdeka sepenuhnya, tidak tergantung pada apapun juga (paramasvatantra). "Biasa" di sini dengan pengertian bahwa mereka bukan tergolong ishvara-vargam atau ishvara-tattva, namun adalah cit-tattva. Memang benar Buddha dianggap salah satu Saktya-avesha sesuai dengan keyakinan bahwa Tuhan Sendiri secara Pribadi tidak menjelma pada jaman Kali sebagai Avatara. Dalam Veda dengan jelas dikatakan bahwa tidak ada Avatara pada Kaliyuga, sehingga dengan demikian tentu saja Buddha bukan termasuk golongan Avatara seperti Rama, Nrisimha, Vamana, dan sebagainya, tetapi termasuk golongan Saktya-avesha.

Gambar lama Dasa-avatara. Buddhadeva pada pojok kanan atas. Tidak ditampilkan seperti gambaran Buddha biasanya, namun lebih menyerupai Vishnu Sendiri. Tidak ada klaim kepemilikan terhadap Gautama Buddha oleh umat Hindu, apalagi dari golongan Vaishnava seperti sering dinyatakan oleh orang-orang.

Walau demikian, menurut berbagai catatan dalam Veda dan Purana, yang juga diperjelas oleh Sri Jiva Gosvami dalam Sri Krishna Sandarbha, Sarva-samvadini-tika, dan Vishnu-dharmottara, dikatakan bahwa Buddha adalah seorang Saktya-avesha yang turun pada saat jaman Kali sudah berjalan selama 2000 tahun (tatah ity ayam kaler abda-sahasra-dvitiye gate vyaktah). Itu berarti sekitar 3500-4000 tahun yang lalu, sedangkan Sakyamuni atau Buddha Gautama hidup 2500 tahun yang lalu. Jadi jelas bahwa Buddha yang dimaksud dalam Veda bukanlah Buddha historis, melainkan Buddha lain yang oleh Amarasingha disebut sebagai Sugata Buddha. Sugata Buddha inilah yang disebut sebagai Saktya-avesha dari Vishnu, bukan Sakyamuni Buddha. Kemudian dalam Dasa-avatara-stotra, Sri Vadiraja Tirtha menjelaskan bahwa Vishnu-avatara Buddha mengajarkan dharma Kebuddhaan di alam surga kepada para deva, sedangkan Sakyamuni, yang dikatakan sebagai putra Suddhodana mengajar di alam manusia. Buddha yang dipuja oleh umat Hindu, khususnya para Vaishnava, adalah Sugata Buddha ini atau yang oleh Sri Vadiraja disebut Paramatma Buddha. Saat ini biografi Sakyamuni atau Gautama Buddha yang tersedia adalah kitab-kitab Lalitavishtara, Jatakamala (kisah-kisah kelahiran Buddha sebelum mencapai kebuddhaan), dan Buddhacarita yang lebih baru. Di sisi lain Sugata Buddha dikisahkan dalam bentuk prediksi oleh Purana-purana Hindu, karena Purana dalam bentuk tertulis disusun oleh Vedavyasa hampir 6000 tahun yang lalu. Ribuan tahun lebih awal dari kemunculan Buddha, baik Sugata Buddha maupun Sakyamuni Buddha. Bahkan dalam Srimad Bhagavatam juga dikisahkan adanya 2 Buddha berbeda karena Purana Hindu mencatat hampir semua kejadian relijius penting di setiap kalpa yang berbeda. Bila kita bandingkan kisah kehidupan Buddha Hindu dalam Purana dengan Buddhanya umat Buddha, maka akan jelas tampak sekali perbedaannya.

Gambaran Buddha dalam masyarakat Hindu lebih menyerupai pencitraan Vishnu tradisional dengan dua dvarapalaka Vaikuntha atau para Divyasuri

Hindu dan Buddhisme, sekalipun memiliki banyak persamaan, namun juga berdiri pada dasar konsep ketuhanan yang berbeda. Umat Buddha tidak perlu merasa keberatan dengan keyakinan Hindu bahwa Buddha adalah salah satu Avatara Vishnu. Di luar ada tidaknya dampak politis dari keyakinan ini, setidaknya secara filosofis Buddha yang dimaksud oleh kedua belah pihak tidaklah sama. Umat Hindu juga tidak benar memaksakan bahwa Sakyamuni merupakan Buddha-avatara dari Vishnu. Dalam literatur Veda sendiri tidak ada bukti-bukti yang mendukung hal ini, tidak pula dalam tulisan para guru Hindu terdahulu. Tampaknya keyakinan bahwa Sakyamuni Buddha merupakan Avatara adalah kesalahpahaman yang terlanjur populer dan disebar luaskan oleh mereka yang berada di luar tradisi Veda otentik. Satu-satunya penjelasan adalah oleh karena kebesaran nama Buddha historis sendiri dan juga oleh pemikiran para sarjana Barat yang menganggap tidak mungkin ada catatan sejarah lebih tua lagi dari jaman Buddha historis 2500 tahun yang lalu. Mereka tidak percaya bila sebelum masa itu sudah ada peradaban rohani Vaidika yang telah berkembang sangat tinggi.

Rabu, 29 Desember 2010

Saling Gugat

Non Hindu (NH): Mengapa umat Hindu menyembah benda mati bukan Tuhan yang sejati dan hidup?

Hindu (H): Itu katamu, bukan kami. Kami memuja Parabrahman Sri Bhagavan, Kebenaran Mutlak yang Utama dan Pribadi Tertinggi yang asli.

NH: Tapi di Pura-Puramu kamu memuja patung batu, mempersembahkan sesaji dan menyembahnya.
H: Kamu cuma bisa melihat batu, tapi kami melihat Rupa menakjubkan dari Sri Bhagavan yang kami cintai sepenuh hati.

NH: Tuhan Mahabesar, Mahaagung, Tak Terbatas, Mutlak, Mahakuasa, tak berwujud, tidak menyerupai apapun. Bagaimana kamu bisa mengatakan melihat Rupa-Nya?
H: Kamu tidak melihat tapi kami melihat. Kamu tidak tahu tapi kami tahu. Para Rishi kami mengetahui Rupa sejati Beliau tetapi kamu tidak. Dalam sastra suci kami Tuhan mengungkapkan Rupa-Nya tetapi dalam sastramu tidak. Kami mengenal-Nya dengan baik tetapi kamu tidak. Lalu mengapa kamu bisa mengatakan kami salah atau benar, sedangkan kamu tidak tahu apa-apa?

NH: Kalaupun Tuhan berwujud, tetapi kamu tidak bisa membuat citra-Nya. Kamu tidak bisa membuat gambar-Nya, patung-Nya, atau ukiran-Nya. Sekalipun mungkin bentuk-bentuk ini bisa mengingatkanmu kepada-Nya, sebagai objek untuk membantu memusatkan pikiran kepada-Nya seperti yang sering dikatakan oleh pemuka-pemuka agamamu, tetapi tetap saja kamu tidak bisa menyembahnya. Foto seseorang bagaimana pun sempurnanya bukan orang itu sendiri. Orang bodoh pun tahu ini.
H: Itu keterbatasanmu bukan keterbatasan Tuhan. Fotomu memang berbeda dengan dirimu. Memberikan makanan pada fotomu tidak akan membuatmu kenyang. Tapi Tuhan tidak seperti kamu. Beliau Mahakuasa, paramasvatantra, tidak terikat oleh syarat-syarat apapun. Satyasankalpa, segala hal dimungkinkan bagi Beliau. Sarvasaktiman, Beliau adalah pemilik dari segala kekuatan yang tak terbatas, sumber dari energi rohani maupun duniawi. Beliau juga adalah paramakrupalu, yang paling berkarunia. Oleh karunia Beliau yang tiada sebabnya, nirhetuka-krupa, Beliau telah mengungkapkan Veda dan Agamasastra seperti Pancaratra, yang memungkinkan kami mengundang kehadiran rohani Beliau di dalam Rupa Archa-Nya. Oleh kemurahan hati-Nya kepada kami, Beliau telah memberitahukan rahasia ini. Beliau telah memberitahu kami bagaimana caranya memohon kehadiran Beliau dan Beliau sangat mengasihi kami sehingga Beliau juga bersedia hadir seperti itu demi kami. Setelah itu kami dapat melakukan pelayanan secara langsung kepada Beliau melalui Archa-Nya. Bukan salah kami jika Tuhan tidak memberikan keistimewaan ini kepada kamu.

NH: Bila Tuhan benar-benar hadir dalam Archa-Nya yang kalian sembah, lalu kenapa kami bisa meremukkannya menjadi debu? Mengapa kami dapat menghancurkan Pura-Puramu dengan mudah? Mengapa Dia hanya diam saja melihat tempat suci-Nya diporak-porandakan?
H: Kami menerimanya sebagai pelajaran dan karunia juga dari Beliau. Peristiwa mengerikan semacam ini tidak membuat kami sedikitpun kehilangan keyakinan kepada Tuhan. Dengan ini Beliau memperlihatkan kepada kami, bahwa masih ada kekurangan dalam cinta dan pelayanan kami kepada Beliau, sehingga kehadiran Beliau yang rohani tidak ada lagi dalam Archa-Nya. Ini berarti kami harus memperbaiki kekurangan kami. Dengan melenyapkan Rupa Beliau yang tertampak di mata kami, Beliau telah hadir dalam Rupa-Nya yang jauh lebih mulia di hati kami, tempat kami memuja-Nya dalam kerinduan kami. Lihatlah bagaimana Sri Thyagaraja memuja Sri Rama ketika Archa Sri Rama pujaannya dibuang ke sungai. Dia bertemu dengan Sri Rama setiap saat, setiap detik, melihat-Nya dalam hatinya. Dapatkah kamu memuja Tuhan seperti ini? Beliau juga ingin memperlihatkan sesuatu yang lain kepada mata dunia. Atau lebih tepatnya kamu sendiri yang menunjukkan kepada dunia, betapa bodohnya dirimu. Bagaimana kamu bisa berpikir dengan menghancurkan Archa-Nya kamu sudah bisa melenyapkan Tuhan? Sekalipun bila benar patung-patung itu tidak memiliki nilai rohani sama sekali. Tidak ada kenyataan apapun yang kamu buktikan dengan menghancurkannya. Hanya kebodohan, kemarahan, dendam, pengendalian diri yang lemah, dan keterikatanmu pada hal-hal duniawi yang dapat kamu pamerkan. Kamu mengatakan itu hanya benda mati, tetapi kenapa tuhanmu yang sejati begitu takut padanya. Kenapa dia merasa benda-benda ini dapat menyainginya dan mengurangi keimananmu kepadanya? Lalu bila dia sungguh mahakuasa, mengapa dia tidak turun sendiri ke sini dan menghancurkan tuhan-tuhan “palsu” saingannya, supaya kami bisa sadar dan turut meyakininya? Ketika Pura-Pura kami dihancurkan, kami tidak melihat kegeraman murka tuhan sejati yang dijatuhkan pada penyembahan tuhan kami yang kalian kutuki. Kami justru melihat kebodohan besar sekelompok orang yang begitu menjijikkan dan tak mengenal budaya, yang mengikuti perintah tuhan yang sama lemah dan tidak beradabnya. Dengan demikian Beliau mengajarkan dan menunjukkan kepada kami secara nyata, siapa yang harus didengar, siapa yang harus dipercayai.

NH: Kamu sangat ahli berfilsafat sehingga hatimu membatu dan tidak dapat menerima firman tuhan yang benar. Filsafat dan pengetahuan ini semua berasal dari Iblis.
H: Iblismu lebih pintar dari tuhanmu, dia lebih licik dan pandai, mengapa kami harus percaya pada tuhan yang ada saingannya seperti itu? Wajar saja kalau akhirnya orang bisa-bisa lebih memilih ikut iblis saja. Bhagavan Sri Krishna yang kami puja tidak memiliki saingan, satu tiada dua-Nya, segala pengetahuan berasal dari-Nya, Beliau adalah sac-cid-ananda-vigraha, yang wujud-Nya kekal, penuh pengetahuan dan penuh kebahagiaan. Kami belajar agar hati kami sepenuhnya dirohanikan agar Tuhan berkenan bersemayam di dalamnya. Karena itu kami dapat melihat kehadiran Tuhan di mana-mana. Tapi hatimulah yang membatu dipenuhi berbagai konsep duniawi sehingga hanya bisa melihat batu sebagai batu saja. Sekalipun Tuhan hadir di hadapanmu, yang kamu lihat hanyalah batu. Ini ketidakberuntunganmu, bukan kami.

NH: Kamu sudah menghina tuhan dan agama kami. Kamu menjelek-jelekkan kepercayaan kami dan menghujat tuhan.
H: Kamu terlalu miskin untuk membeli cermin...

Pelangi, pelangi, alangkah indahmu...


Tuan Zakir Naik berkata, “Sri Sri Ravi Shankar menulis dalam bagian pertama bukunya tentang percaya kepada satu Tuhan. Hinduisme telah dipahami sebagai satu agama yang memuja banyak tuhan tapi berlawanan dengan pengertian ini, Hindu percaya pada satu Tuhan. Saya 100% setuju dengan beliau sebagaimana telah saya sampaikan dalam wacana saya.”

“Lebih lanjut beliau berbicara bahwa Hindu percaya advaitha non-dual monotheism. Walaupun tujuh warna membentuk pelangi, namun sesungguhnya dia berasal dari cahaya putih, satu cahaya putih. Begitu pula 33 crores devi dan devata, para dewa dan dewi berasal dari cahaya paramathma yang tunggal. Membandingkan tujuh warna pelangi ini yang berasal dari satu sinar putih dengan 33 crore devi dan devatha yang berasal dari sinar satu paramathma, saya merasakan sulit diterima akal karena saya adalah seorang dokter dan murid sains juga. Kita tahu bahwa dalam sains dikatakan sinar tersusun atas tujuh warna MEJIKUHIBINIU, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, tetapi masing-masing warna sinar ini bukanlah sinar putih dengan sendirinya. Semua ketujuh warna dalam proporsi yang tepat akan membentuk satu sinar putih. Masing-masing warna individual ini bukanlah sinar putih; dan jikalau satu warna hilang maka sinar putih tak akan terbentuk. Dengan mengumpamakan 33 crores devi dan devatha sebagai sinar dari satu paramathma, adalah seperti mengatakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa memiliki 33 crore anggota tubuh seperti sesosok tubuh manusia yang punya sekitar 11 bagian: 2 kaki, 2 tangan, 1 kepala, 1 leher, 1 dada, 1 perut, 1 panggul; tapi masing-masing bagian tidaklah membentuk tubuh manusia yang lengkap. Semua bagian ditempatkan dalam posisinya yang tepat barulah menjadi tubuh manusia sempurna. Bila salah satunya hilang, itu bukan tubuh manusia yang lengkap. Menggunakan contoh ini untuk mengatakan 33 crore sama dengan satu Tuhan, atau Tuhan memiliki 33 crore bagian, ini saya tidak setuju dan bila satu bagian hilang maka tidak akan jadi satu Tuhan yang lengkap.”

Argumen Tuan Zakir untuk memotong argumen Sri Sri Ravi Shankar mengenai para devi dan devatha Hindu sekilas tampak sangat meyakinkan. Tetapi kedua argumen ini, baik yang diajukan maupun yang ditentang sama sekali tidak dapat menjelaskan apapun mengenai para devi dan devatha. Dalam siddhanta-siddhanta Sampradaya terpercaya tidak ada pengetahuan berdasar lemah semacam ini. Srimadacharya Madhva sudah terlebih dahulu mengritik para sarjana mayavada yang menggunakan perbandingan-perbandingan duniawi untuk menjelaskan Parabrahman secara tidak tepat. Memang harus diakui bahwa dalam tataran duniawi sangat sulit menyampaikan karakteristik Parabrahman tanpa menggunakan perumpamaan yang sifatnya fana, seperti memperbandingkan Parabrahman dengan samudera, angkasa, dsb. Namun semua ini harus diterapkan dengan kesadaran penuh bahwa semua penjelasan duniawi atau perbandingan duniawi tidaklah mampu menggambarkan secara tepat dan sempurna Kebenaran Mutlak Tertinggi itu. Sehingga menjadi sia-sia bila kita memperdebatkan hal-hal duniawi semacam yang dilakukan oleh Tuan Naik.

Semua orang Hindu yang paling bodoh pun tahu bila Parabrahman, Sri Bhagavan, sekalipun diumpamakan sebagai pelangi untuk menjelaskan sebagian aspek kemahakuasaan-Nya, tetapi Beliau bukanlah pelangi. Tidak ada gunanya mengkaji lebih jauh tentang ilmu perpelangian atau ilmu sinar untuk menyatakan hubungan Sri Bhagavan dengan para devi dan devatha. Kita semua mengetahui bahwa Tuan Naik selain seorang ilmuwan (dokter) juga adalah sarjana perbandingan agama. Beliau tentu sudah mempelajari teks-teks Veda, dan memang sepanjang wacana dan perdebatannya bersama Sri Sri Ravi Shankar beliau selalu mengutip teks-teks Veda tertentu. Namun kita juga tahu bahwa Tuan Naik mempelajari Veda tanpa keinsafan rohani apapun. Beliau mempelajari Veda hanya sekedar untuk mencari pembenaran atas agamanya dan mengungkap kesalahan-kesalahan dalam Hindu. Tuan Naik mempelajari Veda tanpa sedikitpun memiliki kualifikasi terendah yang harus dimiliki oleh seorang anak yang baru memasuki Veda-pathasala atau Gurukulam, yaitu pranipatya, penyerahan diri. Sehingga dengan demikian beliau hanyalah memiliki pemahaman yang dangkal atas teks-teks suci Veda, yang tentu tidak sama dengan kitab sucinya yang hanya sebatas kumpulan sejumlah kecil ayat-ayat yang diperuntukkan bagi orang-orang tak berbudaya di padang pasir. Bagaimana kita mengharapkan seorang yang dibesarkan dalam budaya intelektual yang sama sekali tak dapat melampaui ketakterbatasan semesta dapat menggapai keinsafan mengenai Kebenaran Mutlak yang jauh lebih luhur dari alam semesta ini?

Paling tidak kita bisa menyuruhnya membaca Bhagavad-gita seperti seorang anak yang baru masuk Gurukulam, bukan sebagai sarjana atau Pandita Veda. Sejumlah besar deva yang disebutkan dalam tradisi Hindu dengan jelas sekali sudah diuraikan dalam Adhyaya Vibhuti Yoga (Bab 10) Bhagavad-gita. Saya tidaklah perlu menjelaskannya lagi karena Paramgurupadapadma kami, Srila Prabhupadaji Maharaja sudah menyusun Bhagavad-gita Menurut Aslinya dengan penjelasan yang sangat rinci. Jadi untuk menjawab masalah devi-devatha ini, anda cukup membaca dari satu Adhyaya Vibhuti Yoga ini. Mengenai perumpamaan bahwa para devi-devatha adalah bagian dari tubuh semesta Tuhan, juga bisa dipelajari dari Bhagavad-gita Adhyaya 11 mengenai Visvarupa-darsana. Saya yakin bahkan orang paling bodoh pun dapat memahami penjelasan Srila Prabhupadaji Maharaja bila dia sungguh-sungguh mempelajari Gita dengan semangat yang benar.

Sayangnya Tuan Naik saya yakin akan menolak membaca Gita dari Srila Prabhupadaji Maharaja karena beliau akan berkelit dengan mengatakan bahwa Bhagavad-gita adalah smrithi-sastra jadi tidak memegang otoritas tertinggi dalam Hindu (Veda). Ini tampak dari awal wacana beliau mengenai hirarki sastra-sastra Veda. Lalu lebih jauh lagi bahwa Srila Prabhupadaji Maharaja menerjemahkan dan mengulas Bhagavad-gita dengan semangat yang bersifat sektarian, toh Srila Prabhupada adalah hanya seorang tokoh dari satu sekte Hindu. Ini asumsi saya pribadi berdasarkan pengalaman saja, mungkin benar demikian mungkin juga tidak. Tetapi andaikan prediksi dan asumsi saya ini benar adanya, maka keberatan pertama adalah alasan kekanak-kanakan dari seorang yang belum pernah hidup dalam tradisi Veda yang sebenarnya. Siapa dirinya sehingga dia merasa mampu memahami sruti-sastra dengan sendirinya tanpa berpegang pada otoritas sastra Veda lainnya. Apakah beliau setara dengan para penyusun smriti-sastra sehingga merasa layak untuk mengabaikan pengetahuan mereka dan lebih memilih mempelajari dan menjelaskan sruti-sastra secara langsung dengan keinsafan dari padang pasirnya? Hanya dengan membaca argumennya mengenai perumpamaan sinar-warna pelangi dan tubuh manusia kita sudah bisa melihat bahwa kesadaran dan keinsafan rohani beliau tidak mampu melampaui konsep kebendaan yang fana. Bagaimana bisa memahami pengetahuan yang melampaui segala keduniawian? Keberatan kedua hanya dapat dipahami sebagai pendapat seorang yang juga tidak memahami Veda. Di luar apakah seseorang mengakui atau tidak Srila Prabhupadaji Maharaja adalah otoritas terpercaya dalam tradisi Veda, paling tidak beliau menyusun Bhaktivedanta-Gitabhasyanya segaris dengan Gitabhasya para Acharya seperti Sri Ramanuja, Sri Madhva, Sri Jiva, Sri Baladeva, dsb, dan dibentuk sebagai paduan komprehensif banyak pramana dari berbagai sastra Veda, sruti, smriti, purana, dan itihasa. Bayangkan berapa banyak Acharya terkemuka yang harus kita tentang dan berapa banyak sastra Veda yang harus kita sangkal untuk menyatakan bahwa Bhaktivedanta-bhasya dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya adalah palsu?

Apabila beliau juga tidak mampu juga menerima Gita, lalu mengapa beliau yang adalah seorang sarjana perbandingan agama melupakan pernyataan Isavasya-upanishad? Sudah jelas dikatakan bahwa Parabrahman adalah OM PURNAM. Semua siswa Veda mengetahui mantra ini dengan baik. Parabrahman adalah kesempurnaan, sempurna dan lengkap. Walaupun begitu banyak kesatuan yang lengkap dan sempurna memancar dari Beliau, namun Beliau tetap sempurna dan lengkap. Kalau Tuan Naik masih bersikukuh mendebat perumpamaan pelanginya Sri Sri Ravi Shankar, maka pertama dia harus ingat, tidak ada umat Hindu yang cukup bodoh untuk berpikir bahwa Tuhan adalah pelangi. Tuan Naik bisa saja juga mengatakan bahwa dirinya setuju dengan pendapat saya ini, tapi nyata dari argumennya bahwa dia tidak dapat melepaskan dirinya dari konsep pelangi duniawi. Andaikan Parabrahman diumpamakan pelangi, maka Beliau bukanlah seperti satu-satunya pelangi yang diketahui Tuan Naik, pelangi fana. Parabrahman adalah bagaikan pelangi rohani, yang sekalipun tujuh warna sinar berasal dari satu sinar putih, tetapi tujuh warna ini tidak memberikan efek pengurangan apapun pada sinar tunggal yang menjadi asalnya. Benda duniawi seperti samudera juga bisa dipakai sebagai perumpamaan. Bila Parabrahman adalah samudera, maka manifestasi kemewahan Beliau (yang disebut vibhuti dalam Gita) adalah tetes-tetes air dari samudera itu. Maka kita dapat mengatakan bahwa bila setetes air diambil dari samudera berarti itu bukan samudera yang lengkap. Itu adalah samudera minus satu tetes air. Inilah pemahaman duniawi yang persis sama dengan analisa Tuan Naik tentang pelangi dan tubuh manusia. Tetapi Parabrahman adalah samudera rohani. Sebagaimana dinyatakan oleh mantra om purnam..., maka jangankan setetes air, tapi segentong, sewaduk, atau bahkan air satu samudera lain bila memancar dari samudera Parabrahman, maka airnya tetap tidak berkurang, tetap sebagai satu samudera yang lengkap dan sempurna. Inilah yang dinyatakan oleh Veda.

Kamis, 09 Desember 2010

Awal mula semua agama adalah Veda


Pernahkan anda mendengar klaim yang menyatakan bahwa kisah Ramayana dan Mahabharata adalah kisah yang sebenarnya ada di Indonesia? Mereka bersikeras membuktikan kebenaran kisah-kisah tersebut dengan mengait-ngaitkan alur cerita Ramayana dan Mahabharata terhadap nama-nama tempat yang ada di Indonesia saat ini. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkalim bahwa cerita Ramayana dan Mahabharata yang otentik adalah kisah cerita yang mereka sampaikan. Sebagai contoh senjata Kalimosodo yang dikatakan adalah senjata pamungkas Panca Pandawa dalam kisah Mahabharata. Meskipun ada indikasi bahwa cerita adanya senjata Kalimosodo ini adalah karang Sunan Kali Jaga dalam usahanya menyebarkan Islam pada waktu itu, namun tetap saja mereka berkilah dan menyatakan dengan sangat yakinnya bahwa kisah Kalimosodo itu memang ada dan tentunya dengan cara mengait-ngaitkannya dengan “local genius” yang ada serta membantah kisah yang disampaikan kitab-kitab Itihasa.
Sebagaimana dituliskan dalam buku “Ramayan Around The World” karya Ravi Kumar, ternyata hampir diseluruh dunia dapat ditemukan kisah-kisah yang kurang lebih sama dengan kisah-kisah Veda (dalam kaitannya dengan buku ini adalah Ramayana yang terdapat dalam kitab Itihasa). Dalam bukunya tersebut Ravi Kumar menyebutkan bahwa hampir di seluruh negara di Asia mengenal kisah Ramayana, meskipun sudah diadopsi sedemikian rupa sehingga lebih mencirikan daerah bersangkutan. Thailand sendiri menggunakan Garuda Visnu sebagai simbol negara. Di Kamboja tarian Ramayana sangat umum dipentaskan. Agama Shinto di Jepang juga memiliki dewa-dewa dan tokoh-tokoh yang sangat erat kaitannya dengan kisah Ramayana. Di puing-puing peradaban suku bangsa Inca dan Maya di Amerika, para arkeolog juga menemukan relief-relief yang menggambarkan kisah-kisah Ramayana. Intinya, Ravi Kumar mengatakan bahwa kisah Ramayana menyebar, diadopsi dan diakui sebagai local genius di berbagai belahan bumi ini.
Ternyata kemiripan kisah-kisah yang disampaikan dalam Veda dengan kisah yang berkembang dalam kebudayaan lain (non vedic) tidak hanya terbatas pada kisah Ramayana dan Mahabharata. Dalam buku berjudul Moisés y los Extraterrestres, yang dikarang oleh penulis Mexico, Tomás Doreste menyebutkan bahwa ada benang merah antara cerita nenek moyang agama-agama rumpun Abrahamik dengan agama Hindu. Dia memaparkan bahwa yang disebut sebagai Abraham dan Sarai pada dasarnya adalah Brahma dan Sarasvati. Lebih lanjut dia juga memaparkan bahwa kisah banjir bandang nabi Nuh ternyata mirip dengan kisah diselamatkannya Manu oleh penjelmaan Tuhan sebagai Matsya Avatara.
Andaikan semua kesamaan kisah ini memang berasal dari satu sumber, apakah itu artinya semua budaya dunia pada dasarnya berasal dari Veda? Ataukah kisah Veda yang mencontek dari kisah-kisah agama-agama Abrahamik sebagaimana yang mereka propagandakan selama ini untuk mencari pengikut?
Artikel “Was Abraham a Hindu?” yang ditulis oleh Gene D. Matlock menepis dan membalikkan anggapan tidak tahu malu para propaganda agama kaum Abrahamik ini. Hasil pengkajiannya malahan menyatakan bahwa ajaran-ajaran agama Abrahamik pada dasarnya hanyalah pecahan dan penggubahan menyimpang dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Veda. Gane D. Matlock juga mengutip buku Moisés y los Extraterrestres, yang menyebutkan:
Voltaire yakin bahwa Abraham berasal dari pemuka agama penyembah Brahma yang meninggalkan India untuk menyebar ajaran mereka ke seluruh dunia; dan untuk mendukung pendapatnya ini, ia menyebutkan persamaan nama-nama dan fakta bahwa kota Ur, negeri para leluhur dekat dengan perbatasan Persia, yang merupakan jalan ke India, tempat aliran Brahma muncul.
Brahma sangat dihormati di India, dan pengaruhnya menyebar ke seluruh Persia sepanjang sungai Efrat dan Tigris. Orang-orang Persia mengadopsi Brahma dan membuatnya seolah-olah merupakan budaya mereka sendiri. Kemudian mereka mengatakan bahwa Tuhan datang dari Bactria (sebuah daerah kuno di Afganistan), yang merupakan suatu daerah bergunung yang terletak di pertengahan jalan ke India (pp. 46-47.)
Bactria adalah tempat asal mula munculnya bangsa Yahudi yang dikenal dengan sebutan Juhuda atau Jaguda, dan juga disebut Ur-Jaguda. Ur berarti “tempat atau kota.” Oleh karena itulah, Alkitab menyatakan bahwa Abraham datang dari “Ur Chaldeans.” “Chaldean,” atau lebih tepatnya Kaul-Deva (Kauls suci), bukanlah etnis tertentu, tetapi merupakan kedudukan dalam  Hindu pemuja Brahma seperti pendeta yang tinggal di tempat yang sekarang dikenal sebagai Afghanistan, Pakistan dan Kashmir.
“Suku Ioud atau Brahmin Abraham, meninggalkan Matura dari kerajaan Oude di India dan, mengatur Goshen, yang disebut “rumah dari Matahari” atau Heliopolis di Mesir, menamai tempat tersebut sesuai dengan daerah asalnya di India, Matura.” (Anacalypsis; Vol. I, p.405.)
Ia berasal dari agama atau sekte dari Persia, Melchizedek”(Vol. I, p.364.)
Orang-orang Persia juga mengaku Ibrahim atau Abraham, adalah leluhur mereka. Dengan demikian kita lihat bahwa menurut semua sejarah kuno Persia, Yahudi, dan Arab adalah keturunan-keturunan dari Abraham.(p.85) …Kita mengetahui bahwa Terah, ayah Abraham, berasal dari satu negeri Timur yang disebut Ur, dari Chaldees atau Culdees, dan menetap di daerah yang disebut Mesopotamia. Beberapa waktu setelah ia bertempat tinggal di sana, Abraham, atau Ibrahim, atau Abram, atau Brahma, dan istrinya Sara atau Sarai, atau Saraiswati, keluarga yang ditinggalkan ayah mereka dan datang ke Kanaan. Identitas Abraham dan Sara dengan Brahma dan Saraiswati pertama ditunjukkan oleh Jesuit missionaries”(Vol. I; p.387.)”
Di dalam filsafat Hindu, Sarai-Svati (Sarasvati) adalah sakti (istri) dari Brahm (Brahma). Alkitab sendiri memberikan dua kisah tentang Abraham. Dalam versi pertama, Abraham mengatakan kepada Firaun bahwa ia berbaring ketika ia memperkenalkan Sarai sebagai saudarinya. Di dalam versi yang kedua, ia juga mengatakan kepada raja Gerar bahwa Sarai sebenarnya saudarinya. Namun, ketika raja memarahinya saat berbaring, Abraham berkata bahwa Sarai sebenarnya saudari dan juga istrinya. “…namun sebenarnya dia adalah saudariku; dia adalah putri ayahku, tetapi bukan putri ibuku; dan dia menjadi istriku”. (Kejadian 20:12.)
Tetapi keganjilan-keganjilan itu tidak berakhir di sini. Di India, anak sungai Saraisvati adalah Ghaggar. Anak sungai yang lain adalah Hakra. Menurut tradisi-tradisi Yahudi, Hagar adalah pelayan Sarai; Orang muslim menyebutkan bahwa dia adalah seorang putri Mesir. Ada hubungan apa antara Ghaggar, Hakra dan Hagar dalam tradisi yang berbeda ini?
Alkitab juga menyebutkan bahwa Ismail, putra Hagar, dan keturunan-keturunannya hidup di India. “…Ismael menghirup nafasnya yang terakhir sebelum meninggal, dan keluarganya berkumpul… Mereka bertempat tinggal dari Havilah (India), oleh Shur, yang dekat dengan Mesir, di semua jalan ke Asshur.” (Kejadian 25:17-18). Adalah fakta yang menarik dimana nama dari Ishak dan Ismail berasal dari bahasa Sansekerta: (Ibrani)  Ishaak = (bahasa Sansekerta) Ishakhu = “Sahabat Shiva.” (Ibrani)  Ismail = (bahasa Sansekerta) Ish-Mahal = “Shiva yang agung”.
Versi kisah singkat ketiga Abraham dalam hubungannya dengan “Nuh.” Kita mengetahui bahwa banjir membawa Abraham keluar dari India. “…Jadi; Dengan demikian saith pemimpin dewa dari Israel, ayah-ayahmu bertempat tinggal di sisi lain dari banjir pada masa lampau, Bahkan Terah, ayah Abraham, dan ayah Nachor; mereka melayani para dewa lain. Dan aku mengambil ayah anda Abraham dari seberang banjir, dan memimpin dia sepanjang negeri Kanaan.” (Yosua 24:2-3).
25 bagian dari kitab kejadian menyebutkan beberapa keturunan dari selirnya Ketura (Catatan: Muslim menyatakan bahwa Ketura adalah nama lain dari Hagar): Jokshan; Sheba; Dedan; Epher. Beberapa keturunan Nuh adalah Joktan, Sheba, Dedan, dan Ophir. Bermacam-macam versi ini membuat kita curiga bahwa para penulis Alkitab sedang berusaha mempersatukan beberapa cabang yang berbeda dari Judaism.
Pada tahun 1900 SM, budaya Brahm menyebar ke timur tengah setelah terjadi curah hujan dan gempabumi yang hebat yang menyebabkan bagian India utara terpisah, bahkan mengubah sepanjang sungai Indus dan Saraisvati. Ahli bumi klasik, Strabo mengatakan terdapat daerah yang hampir di tinggalkan di bagian India barat laut; “Aristobolus berkata bahwa ketika ia diutus dalam misi tertentu di India, ia melihat suatu negeri terdiri dari ribuan kota, bersama-sama dengan desa-desa, yang telah ditinggalkan…..” (Geografi Strabo, XV.I.19.)
“mengeringnya sungai Sarasvati di sekitar 1900 SM, mungkin merupakan penyebab migrasi menuju arah barat dari India. Hal ini juga dapat di lihat dari banyaknya unsur budaya India yang dapat kita lihat di seluruh Asia Barat, Mesir, dan Yunani.” (Indic Ideas in the Graeco-Roman World, oleh Subhash Kak, diambil dari IndiaStar online literary magazine; p.14)
Sejarawan India, Kuttikhat Purushothama Chon percaya bahwa Abraham diusir dari India karena tidak mampu untuk mengalahkan Asuras yang saat itu menguasai menguasai daerah Indus Valley atau Harappans setelah dalam banyak pertempuran. Abraham dan keluarganya akhirnya menyerah dan hijrah ke Asia Barat. (Lihat Remedy the Frauds in Hinduism) Oleh karena perang dan bencana, akhirnya memaksa para pedagang, buruh, dan kelas-kelas terdidik dari India harus melarikan diri ke Asia Barat.
Edward Pococke menulis nama India di Yunani, “…tidak ada kejadian serupa yang sudah terjadi penuh dengan akibat-akibat seperti itu, seperti peperangan religius yang besar yang terjadi dalam jangka waktu yang lama di seluruh India. Kejadian yang berakhir dengan pengusiran besar-besaran; banyak di antara mereka trampil dalam bidang seni dari awal peradaban, namun dalam jumalh lebih besar, para prajurit sebagai pekerjaan. Dikendalikan di luar pegunungan Himalayan sebelah utara, Srilanka merupakan pertahanan terakhir mereka di selatan, yang disapu ke seberang Valley dari Indus bagian barat, dan merekalah yang membawa seni dan ilmu pengetahuan ke Eropa. Melalui beberaoa barier di Punjab, mereka mengarah ke Eropa dan Asia lainnya.” (p. 28.)
Jika semua dari mereka adalah keturunan India, kenapa sejarah tidak menyebutkan hal ini?
Hijrah dan pengungsian dari India yang masa lampau tidak terjadi secara tiba-tiba dan dalam satu masa, tetapi lebih dari ribuan tahun. Jika semua pengungsi ini menguasai Warisan/pusaka India, kenapa  sejarah tidak menyebut mereka? Mereka disebutkan sebagai Kassites, Hittites, orang-orang Aram, Asyur, Hurrians, Arameans, Hyksos, Mittanians, Amalekites, Aethiops (Atha-Yop), Phoenicians, Chaldeans, dan banyak lagi yang lainnya. Tetapi kita telah keliru diajarkan untuk menganggap mereka sebagai etnis-etnis berasal dari Asia Barat. Buku sejarah kita juga menyebut mereka “Indo-Eropa”, menyebabkan kita bimbang di mana mereka sebenarnya berasal. “Orang-Orang India menyadari identitas sosial mereka dalam kaitan denganpenggunaan istilah Varna dan Jati (fungsi-fungsi atau tugas kewajiban dalam masyarakat); bukan dalam kaitannya dengan istilah keturunan atau suku.” (Foundations of Indian Culture; p. 8.)
Di sini adalah satu contoh bagaimana orang Indian pada masa lampau mengenali masyarakat: Para pemimpin disebut Khassis (Kassites), Kushi (Kushites), Cossacks (untuk kaum militer Rusia) Kaisar (penguasa bangsa Roma),  Hattiya (Hittites), Cuthites (bentuk dialektika lain dari Hittite),  Hurrite (bentuk dialektika lain dari Hittite),  Cathay (para pemimpin Cina), Kasheetl/Kashikeh di antara Aztecs, Kashikhel/Kisheh oleh bangsa Maya, dan Keshuah/Kush oleh Inca. Assyrian (di dalam bahasa Inggris),  Asirios (di dalam Spanyol), Asuras atau Ashuras (India), Ashuriya, Asuriya (Sumeria dan Babilonia), Asir (Arabia), Ahura (Persia), Suré di Mexico Tengah, dan lain-lain, adalah orang-orang yang menyembah Surya (Dewa Matahari).
Secara alami, dalam hal keagamaan, mereka disebut ” Assyrians /Asyur” meskipun asal kerajaan mereka berbeda-beda.
Masalah utama para sarjana Barat dalam mengidentifikasi Indo-Eropa sebagai orang India adalah karena India pada waktu itu tidak pernah sebagai suatu bangsa/negara, tetapi India dikenal sebagai Bharata. Bharata sendiri bukan suatu bangsa, Bharata adalah kumpulan kerajaan-kerajaan, seperti halnya Eropa yang merupakan kumpulan negara-negara.
“Sejarawan-sejarawan Arab menetapkan bahwa Brahma dan Abraham, nenek moyang mereka, adalah orang yang sama. Persia secara umum memanggil Abraham sebagai Ibrahim Zeradust. Bangsa Cyrus menganggap agama Bangsa Yahudi adalah sama dengan agamanya. Jadi Abraham berasal dari Hindu, atau dengan kata lain bangsa Israel dari Brahma…” (Anacalypsis; Vol. I, p.396.)
Apakah Abraham adalah Ram yang disebutkan dalam Hindu?
Ram dan Abraham mungkin berasal dari kaum yang sama. Sebagai contoh, suku kata “Ab” atau “Ap” bermakna “ayah” di Kashmiri. Sehingga Yahudi bisa memanggil Ram sebagai “Ab-Ram” atau “Ayah Ram” Ini juga dapat dikatakan bahwa kata “Brahm” yang muncul dari “Ab-Ram” dan bukan sebaliknya. kata Kashmiri untuk “Yang Maha Pemurah,” Raham, juga berasal dari Ram. Ab-Raham = “Ayah dari Yang Maha Pemurah”  Rakham = “Yang Maha Pemurah” di dalam bahasa Ibrani; Ram juga merupakan istilah Ibrani untuk “pemimpin tertinggi”. Sejarawan India A. D.Pusalker, dalam papernya “Traditional History From the Earliest Times” yang muncul pada jaman Veda, menyebutkan Ram itu hidup sekitar 1950 SM, dan Abraham juga di prediksikan ada pada waktu yang sama, dan terjadi migrasi besar-besaran setelah terjadi banjir besar.
“Ka’bah adalah salah satu tempat suci yang dipersembahkan kepada dewa-dewa Hindu, salah satunya Brahma, mengapa Islam mengklaimnya sebagai persembahan kepada Abraham? Kata “Abraham” tidak lain adalah suatu malpronunciation kata Brahma. Ini dapat dengan jelas terbukti jika menyelidiki maksud akar kedua kata tersebut. Abraham disebut salah satu nabi Semitic yang paling tua. namanya diduga berasal dari dua kata-kata Semitic ‘Ab’ artinya ‘Bapa’  dan ‘Raam/Raham’ artinya ‘yang diagungkan.’ Di dalam kitab Kejadian, Abraham hanya berarti ‘Orang banyak.’ Kata Abraham berasal dari bahasa Sansekerta Brahma. Akar dari Brahma adalah ‘Brah’ yang bermakna “menumbuhkan atau mengalikan dalam jumlah”. Sebagai Tambahan dewa Brahma, sang pencipta dalam tradisi Hindu disebut ayah semua mahluk hidup dan dewa-dewa, karena beliau adalah pencipta semua dewa dan mahluk hidup lainnya. Jadi dengan demikian, “Bapa Yang Diagungkan” Ini adalah suatu penunjuk yang jelas bahwa Abraham tidak lain adalah ayah yang sorgawi “Brahma.” (Vedic Past of Pre-Islamic Arabia; Part VI; p.2.)
Makna kata “Abram,” mungkin berasal dari penggabungan beberapa kata. Ab = “bapa/ayah” Hir atau H’r = “kepala; puncak; diagungkan;” Am = “orang” Sehingga, Abhiram or Abh’ram dapat berarti “ayah yang di agungkan”. Ab – î – Ram= “ayah yang berkarunia” Ab, juga dapat berarti “ular/naga,” sehingga Ab-Ram dapat berarti raja Naga. Sehingga kata “Abraham” mungkin mengungkapkan tujuan Ilahi pengikut-pengikutnya. Hiram Tyre, Teman dekat Solomon,  adalah orang besar atau Ahi-Ram (naga yang mengagungkan).
Jerusalem adalah kota orang Hitties (keturunan prajurit dari India). Dalam Kejadian 23:4, disebutkan Abraham meminta bangsa Hittites Jerusalem untuk menjual satu bidang tanah kubur untuk dia. Hittites menjawab, “…engkau adalah seorang pangeran di antara kita: dalam pemilihan kuburan-kuburan, tidak seorangpun dari kami dapat menahanmu” (p. 6). Jika Abraham dipuja-puja sebagai sebuah pangeran oleh Hittites, dia, juga, adalah satu anggota suku bangsa prajurit turun temurun dari India yang benar-benar dihormati. Kitab Injil tidak pernah mengatakan Abraham bukan seorang dari suku Hittite. Kejadian 23:4 hanya mengatakan, “Saya adalah orang asing dan hanya singgah dengan anda.”
Di India, Hittites juga dikenal sebagai Cedis atau Chedis (Hatti dilafalkan Khetti). Sejarawan India mengklasifikasikan mereka sebagai salah satu suku bangsa paling tua dari Yadava. “Cedis membentuk salah satu dari suku bangsa yang paling kuno di antara Kesatria (kelas aristokratis terdiri atas Hittites dan Kassites).
Kelompok Ram mengasingkan diri dalam komunitas mereka sendiri, yang disebut Ayodhya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “Unconquerable” Kata bahasa Sansekerta untuk “pejuang” adalah Yuddha atau Yudh. Abraham dan kelompoknya adalah dari Ayodhya (Yehudiya, Judea).
Bukti tertulis yang menguatkan kenyataan ini disampaikan dalam sejarah Bangsa Yahudi, Flavius Josephus ( 37 -100 AD.), seorang teolog Yahudi menulis bahwa ahli filsafat Yunani Aristotle telah berkata: “…Yahudi berasal dari ahli filsafat dari India; mereka diberi nama oleh Indians Calani.” (Book I:22.). Clearchus dari Soli menulis, “Yahudi turun dari ahli filsafat dari India. Ahli filsafat itu di India disebut Calanians dan di Syria disebut Yahudi. Nama dari kota mereka sangat sulit untuk diucapkan, yang disebut ‘Yerusalem”. Dan dalam buku Anacalypsis, karya Godfrey Higgins, Vol.I; p.400 dikatakan; ”Megasthenes, yang diutus ke India oleh Seleucus Nicator, sekitar tiga ratus tahun sebelum Kristus, melakukan penyelidikan dan memperoleh bukti bahwa Yahudi adalah sebuah suku dari India atau sebuah sekte yang disebut “Kalani…“. Martin Haug, Ph.D, menulis dalam “The Sacred Language, Writings, and Religions of the Parsis”, “Tiga raja dari Timur telah dikatakan memanggil agama mereka dengans ebutan Kesh-î-Ibrahim. Mereka menelusuri kitab suci dari Abraham, yang dipercaya telah di bawa dari sorga.” (p. 16.).
Mungkin sulit buat anda mengiyakan penelusuran ini dan anda cenderung memutarbalikkan time-line sejarah dengan mengatakan bahwa Hindulah yang sebenarnya nyontek  ajaran Abrahamik dengan pembenaran berdasarkan teori penyerangan Bangsa Arya atas Dravida dan membawa budaya Veda dari negeri Barat. Meski pembenaran akan teori penyerangan bangsa Arya ini sudah terbantahkan dan anda tidak bisa lagi menggunakan alur logika tersebut, namun saya akan memaparkan kenyataan yang sama sekali tidak bisa anda bantahkan, yaitu proses anakronisasi sejarah yang dilakukan oleh orang-orang non Vedic dalam usahanya menyebarkan dan menanamkan ajarannya.
Mengacu pada buku “Ramayan Around The World” karya Ravi Kumar, dia mengatakan bahwa semua agama pada dasarnya merupakan pecahan dan pendistorisn terhadap nilai-nilai Hindu. Bagaimana tidak, sejarah membuktikan walaupun bangsa Arab adalah bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang dengan sengaja memberhanguskan budaya yang mereka sebut jahilliah, namun variasi  cerita Ramayan ternyata juga masih diadopsi oleh kesultanan Mogul dan Persia pada abad ke-13 dan 19 ke dalam literatur seni Islam. Karya Sastra Ramayana “Dastan-e-Ram O Sita” dan  “Razmnama”  dihasilkan pada abad ke-16 di Iran. Sebuah ilustrasi Ramayana yang unik diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Chand Sumeria dan diilustrasikan pada masa pemerintahan Farrukh Siyar di tahun 1128 H (1715-16 M) dengan 258 miniatur beruang, arsitektur, kostum, dan hiasan dengan menyoroti budaya Veda pada akhir periode Abad Pertengahan.
Mullah Abdul Qadir Badayuni menterjemahkan kisah Ramayana ke dalam bahasa Persia di bawah tekanan penguasa Persia. Tidak berselang lama setelah itu banyak penulis-penulis lain yang juga menyadur kisah Ramayana dan menggubahnya ke dalam bahasa Persia. Dua orang terpenting yang karyanya sangat dikagumi sebagai pembawa pesan moral dan karya seni yang sangat baik. Yang pertama adalah Sheikh Sadullah Masih Panipati yang menyusun Ramayana-e-Masih saat pemerintahan Kaisar Shahjahan dan Jahangir. Karyanya ini pernah diterbitkan pada 1899 oleh Munshi Naval kishor Press, Lucknow. Yang kedua adalah Ramayana Balmiki yang ditulis oleh oleh S. Mohar Singh saat bekerja sebagai tentara Maharaja Ranjit Singh. Karyanya ini sempat diterbitkan pada tahun 1890 oleh Ganesh Prakash Press, Lahore.
Yang unik dari karya-karya gubahan Ramayana di negara-negara Muslim ini adalah di awal epik, mereka mengagung-agungkan kisah-kisah Nabi Muhammad dan menyisipkan kisah-kisah kehidupan Nabi pada epik-epik lainnya. Mereka juga tidak membagi kisah saduran tersebut ke dalam pupuh atau kanda sebagaimana kitab aslinya, tetapi mereka menggunakan gaya Masnawi Persia yang menyerupai heroik kuplet bahasa Inggris. Masing-masing episode dikisahkan dengan judul-judul terpisah. Sedangkan kisah-kisah dimana pengarah Ramayana yang asli, Valmiki juga ada di dalamnya seperti kisah saat Sita menjalani masa pembuangannya di ashrama Valmiki, mereka menggantikan nama Valmiki dengan sebutan “zahid”. Disamping itu, sebagian besar kisah Ramayana juga dimetaforakan dengan mengambil nilai-nilain yang dianggap berhubungan dengan Islam.
Hanya saja sayangnya semua versi Ramayana yang ada di negeri Arab mengalami anakronisasi yang sangat parah, yaitu membuat tokoh-tokohnya melakukan hal-hal yang tidak terjadi dalam kisah asli Ramayana. Sebagai contoh, ketika Sita diculik oleh Rahwana, Laksmana dikisahkan mencari Sita di mana-mana. Selama pencarian itu Laksmana pergi ke sebuah kolam dan bertanya kepada ikan apakah ikan-ikan tersebut telah menelan Sita. Mereka menjawab dengan satu suara bahwa mereka tidak menelan Sita seperti yang mereka lakukan di masa lampau kepada Yunas. Demikian juga ketika Rahwana membakar ekor Hanoman, Sita berdoa kepada Dewa Api (Agni) untuk mengubah api menjadi taman mawar seperti yang telah dilakukan oleh Allah ketika Ibrahim Khalil dilemparkan ke api. Ketika Sita sangat sedih setelah mendengar berita palsu kematian Rama, Trijata dikisahkan mengatakan bahwa tidak ada yang dapat membunuh Rama karena dia abadi bagaikan Issa (Kristus). Kumbhkarna mengatakan kepada Rahwana bahwa ia dapat dengan mudah menghancurkan dinding Sikander’s (Alexander’s).  Tentunya semua kisah-kisah hasil plagiat ini hanyalah kisah mengada-ada dalam usahanya memasukkan ajaran-ajaran mereka melalui kisah legendaris Ramayana. Dengan membandingkan kitab Ramayana yang otentik dengan kisah saduran yang baru tersebut, pembaca akan dengan segera memahami bahwa para penganut non vedic-lah yang telah mencontek dan mendistorsikan kisah yang disampaikan dalam ajaran Veda.
Jadi, masih beranikah anda mangatakan bahwa ajaran Veda diturunkan dari agama Abrahamik dan mengikuti alur logika Zakir Naik dan Abdul Haque Vidyarthi? Bukankah dengan penelusuran ini anda menyaksikan bahwa ajaran-ajaran non Vedic-lah yang berasal dari Veda?

Jumat, 03 Desember 2010

Kebebasan Beragama: Pekerjaan Rumah yang Tertunda

Puluhan tahun silam, Presiden pertama kita, Soekarno, menertawai penjual makanan dan minuman India yang secara provokatif menempelkan identitas keagamaan di plang pintu masuk, “Kedai Teh Hindu” atau “Restoran Muslim”.

Tapi itu dulu, tahun 1940-an. India kini jauh berbeda. Bintang film yang beragama Muslim seperti Sharukh Khan, Aamir Khan dan Salman Khan menjadi idola semua golongan. Negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu itu memiliki Perdana Menteri beragama Sikh. Partai yang berkuasa dipimpin oleh orang Katholik kelahiran Italia. Dan, seorang Presiden Muslim baru saja diganti oleh tokoh perempuan.
Ada suatu masa di mana seorang Pemenang Nobel Pertama dari Asia, Tagore, memadahkan kidung pujian bagi Keragaman Budaya Indonesia, dan Presiden India, Radhakrishnan, takjub akan hubungan harmonis antar kelompok agama yang berbeda di sini. Indonesia masa kini, sayangnya, berbeda…
Saya mengutip “Laporan Kebebasan Beragama tahun 2007 Departemen Luar Negri Amerika Serikat” tentang Indonesia, dikeluarkan oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), dan Perburuhan pada 14 September 2007 silam.
“Undang Undang Dasar (UUD) menjamin kebebasan beragama, dan secara umum Pemerintah menghargai hak tersebut dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada perubahan status kondisi atas kebebasan beragama oleh Pemerintah selama berlangsungnya periode laporan ini, dan kebijakan Pemerintah secara umum terus mengarah pada kebebasan beragama. Namun demikian, walau sebagian besar populasi menikmati kebebasan beragama yang tinggi, Pemerintah hanya mengakui 6 agama besar. Beberapa pembatasan hukum tetap dilakukan terhadap aktivitas keagamaan tertentu dan agama-agama yang tidak diakui. Pemerintah kadang-kadang membiarkan tindakan diskriminatif dan kesewenangan terhadap kelompok-kelompok agama tertentu oleh gerombolan tertentu tanpa menindaknya. Walau Aceh merupakan satu-satunya propinsi yang diijinkan memberlakukan hukum Islam (Syariah), beberapa pemerintah daerah di luar Aceh juga mulai memberlakukan peraturan daerah yang mengadopsi doktrin syariat yang justru membatasi hak-hak kaum perempuan dan kelompok agama minoritas lainnya. Pemerintah tidak menggunakan kewenangan konstitusional atas masalah keagamaan untuk meninjau kembali atau membatalkan peraturan daerah tersebut. Orang-orang dari kelompok agama minoritas dan aliran kepercayaan terus mengalami diskriminasi hukum, sering kali pada pencatatan sipil saat menikah dan kelahiran atau pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Masyarakat secara umum menghargai kebebasan beragama; namun kelompok ekstrimis mengunakan cara-cara kekerasan dan intimidatif untuk memaksa penutupan delapan gereja tidak resmi dan satu masjid Ahmadiyah. Selain itu beberapa gereja lain dan tempat ibadah Ahmadiyah yang pernah disegel secara paksa beberapa tahun silam oleh gerombolan itu sampai saat ini pun masih ditutup. Beberapa pejabat pemerintah dan organisasi massa tertentu tetap menolak interpretasi Ahmadiyah atas ajaran Islam dan melakukan diskriminasi terhadap pengikutnya.

Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita

- Sebuah Renungan Spiritual, Bukan Tulisan Ilmiah -
God is too Big
to be contained in one single container.
Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia…. Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak akan dialaminya lagi. Sesuatu yang terjadi hanya “sekali” saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan menyanyi riang….. Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi berita baik itu dengan mereka: “Lihat, lihat…. Aku telah mekar!”
Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan, tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya, “Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang berbada lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”
Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain: “Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”
Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!
“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya seperti itu.”
Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik dari semua agama, semua tradisi.
“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”
Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.
Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!
Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana, robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!

Ramalan Sabda Palon & Penggenapan Nubuatan

 AA Jin SM: Print
 (foto: Awan yang dipercayai berbentuk kepala Petruk. Menurut mitos masyarakat di sekitar Merapi, Eyang Petruk adalah simbol dari Sabda Palon yang bertapa di gunung tersebut.)
Seorang teman memperlihatkan pada saya informasi-informasi tentang bagaimana ramalan-ramalan tentang akhir dunia kelihatannya sudah banyak mulai digenapi. Diantaranya:
- kembalinya suku-suku bangsa Israel dari berbagai belahan dunia setelah ribuan tahun terpisah ke tanah mereka sendiri sesuai ramalan para nabi di kitab Bibel Perjanjian Lama
- digenapinya ramalan di kitab Wahyu Yohanes (Bibel Perjanjian Baru) tentang penunggang kuda dan malapetaka yang terjadi di bumi, dan
- meletusnya Merapi sesuai ramalan Sabda Palon dsb.

Dia bertanya, tidakkah ini berarti ada Kuasa di atas sana yang berkuasa mengalirkan sejarah sebagaimana yang dikehendakiNya?

Saya merenung dan menarik nafas. Kemudian saya jawab:

“Begini, konon ( saya menuliskan kata 'konon' agar memberi ruang bagi mereka yang tidak mempercayainya) dalam cakrawala berpikir spiritualis,  setiap gerak hati, harapan dan doa, ditampung dalam akal semesta. Akal semesta juga bagaikan cermin yang memantulkan semua pikiran, harapan dan doa yang dikirimkan oleh si pemohon itu kembali ke dirinya sendiri. Semakin besar sinyal pikiran yang diarahkan ke sana, lewat figure dewa, tuhan, buddha, dsb, semakin besar kemungkinan akan terjadinya, sekalipun tentu ada banyak faktor materil lain yang membuat sesuatu terjadi.  Akal semesta juga adalah mekanisme jagat raya.

Betulkah Yesus Berjalan di atas Air?

Ioanes Rakhmat: Print E-mail
Selain itu, klaim bahwa Yesus itu Allah sering membuat orang Kristen mengabaikan suatu fakta yang sudah sangat pasti bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang manusia seperti kita yang memiliki tubuh jasmaniah yang kongkret, yang dapat disentuh dan memiliki berat, yang dapat dipaku pada kayu salib dan mengeluarkan darah lalu mati.
Yesus memiliki ilmu meringankan tubuh sehingga dia bisa berjalan di atas air?? Kalau ya, mengapa dia tidak melayang-layang saja di muka tanah ketika berpergian ke Yerusalem tetapi kok berjalan kaki dan menunggang seekor keledai?

Pengantar
Segala sesuatu yang ada dan terjadi dalam alam harus bisa dijelaskan oleh sains (yang dihasilkan oleh akal budi yang digunakan dengan kritis dan konsisten, melalui metode observasi dan eksperimentasi) sebagai sesuatu yang sejalan dengan hukum-hukum alam (the laws of natureatau natural laws), meskipun sains pada masa kini belum bisa menjelaskan seluruh jalannya hukum-hukum alam. Jika ada suatu fenomena alamiah yang tidak bisa dijelaskan oleh sains pada masa kini, tidak berarti bahwa fenomena ini terjadi karena sebab-sebab supra-alamiah (misalnya karena campur tangan Allah atau campur tangan dewa-dewi) dan karenanya disebut sebagai mukjizat, melainkan berarti bahwa sains pada masa kini belum bisa menjelaskannya dan terbuka kemungkinan untuk sains di masa depan bisa menjelaskannya. Jika kepercayaan pada adanya Allah dipertahankan, maka harus dikatakan bahwa Allah berkarya melalui dan di dalam hukum-hukum alam, dan tidak menentang atau melawan hukum-hukum alam. Lebih jauh dapat ditegaskan bahwa hukum-hukum alam itu sendiri adalah kehendak Allah yang paling langsung dan paling jelas dapat diketahui manusia dalam dunia alam.

Kamis, 02 Desember 2010

Islam's War Against Buddhism


Postby humanaspirit » 

“AllAAAAAAAAAhu Akbar”! begitu bunyi yg keluar dari loudspeaker TOA ,
yg menghancurkan suasana sejuk & damai pada pagi subuh itu.
Saya terhentak, seakan ditabrak mobil dgn tiba2. Suara intrusif itu
menyusup kemana2, bahkan ke telinga burung2 yg tadinya sedang
beristirahat dlm kegelapan pagi.
Waktu itu beberapa menit sebelum pk 4 pagi. Saya duduk dibawah pohon
suci Maha Bodhi di Bodh Gaya, di negara bagian Bihar di India. Waktu
itu bulan Mei 2004, beberapai hari setelah Hari Raya Waisak. Ini
kunjungan saya kedua di tempat yg tidak ada duanya didunia ini, tempat
Sang Buddha mencapai Boddisathva sekitar 2.500 thn yg lalu. Kini,
menjelang akhir hari ke 10 kunjungan saya, saya akhirnya diberi
kehormatan utk menghabiskan malam itu di kompleks perumahan Sang Maha
Bodhi.

Rabu, 24 November 2010

Agama Langit dan Agama Bumi: Dikotomi Tak Tahu Diri


 
 
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen , maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
 
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya ; “ Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
 
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Tim u r (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

Minggu, 21 November 2010

Muslim si bungsu dari ibu Veda



.Semoga sinar damai dan cinta menyebar keseluruh penjuru, melintasi semua inti jagat raya memenuhi semua sel kehidupan menembus ruang dan waktu bersinar setiap saat hidup sepanjang waktu...........
Kebenaran adalah hal yang menyakitkan, semoga dengan ungkapan kebenaran membuat kita lebih dewasa dan mengerti akan segala kondisi dan keberadaan kita. Dengan harapan tulisan ini mampu memberi manfaat pada mereka yang membutuhkan informasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Tidak ada maksud untuk profokasi jadi mohon tarik nafas panjang agar bisa menyimak dengan kepala dingin. Setidaknya anda sekalian tahu latar belakang sejarah, dengan mengetahui akan muncul pemahaman, dengan paham akan menghasilkan pertimbangan (wiweka) dalam bertindak, dari pengalaman dalam bertindak baru muncul kebijaksanaan. Dari bijaksana anda akan menjadi suci, karena orang suci bukanlah orang yang sakti mandraguna, tapi orang biasa yang bijaksana luar - dalam. Orang yang sakti mandraguna dengan segala atributnya belum tentu orang suci, tapi orang suci sudah pasti memiliki daya sakti namun karena bijaksana (tahu akibat dan pengaruhnya pada masyarakat) mereka itu tidak menggunakan daya saktinya. 

Sabtu, 06 November 2010

Islam memusuhi Sai Baba



Postby SUAMI MURTAD » Wed Aug 05, 2009 1:29 am
di salah satu forum Islam saya kebetulan menemui tulisan ini....
FORUM CINTARASUL wrote:http://forum.cintarasul.co.id/viewtopic.php?t=3690&sid=6d5311baf4d99d9f43376a4f16f81a5f
Salah satu tanda akhir zaman yang akhir-akhir ini cukup menyedot perhatian adalah kehadiran seorang bernama Sai Baba, dia lahir dan tinggal di Desa Nilayam Puthaparti, wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan.
Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi).

Jumat, 05 November 2010

Serat Darmo Gandhul : Proses Islamisasi Nusantara Sebenarnya




Kontroversi Serat Darmo Gandhul:
Betulkah Ki Kalam Wadi adalah Ronggo Warsito?

Masuknya Islam ke Tanah Jawa ternyata menyimpan cerita yang sungguh luar biasa. Salah satunya terekam dalam Serat Darmo Gandhul yang kontroversial itu. Dalam serat yang aslinya berbahasa Jawa Kuno itu
dipaparkan perjalanan beberapa wali, juga hambatan dan benturan dng budaya dan kepercayaan lokal.

KENAPA MUSTI PATUNG BUDHA TANJUNG BALAI MAU DITURUNKAN ??




uda tau crita nya lom kalo patung Budha di sumatra utara,lbh tepatnya di tanjung balai asahan mo diturunin dengan alasan ga jelas...

ini gan potonya:



mao tau alesannya??

liat nih:


Konflik Timur Tengah berawal dari jaman Mahabharata?

Timur Tengah adalah sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi dan suku Turki.
Yang unik dari daerah timur tengah yang kaya akan minyak bumi ini adalah adanya konflik berdarah yang tiada berkesudahan sejak jaman dahulu kala. Peperangan demi peperangan terus terjadi dan masih berlangsung sampai saat ini antara suku bangsa dan antara agama-agama serumpun yang berkiblat pada moyang yang sama, yaitu nabi Abraham/Ibrahim.